Jakarta (KABARIN) - Harga cabe rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, sempat mengalami lonjakan cukup signifikan menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
"Beberapa minggu terakhir, cabe rawit merah memang sempat naik cukup tinggi karena suplai dari daerah belum ideal. Tapi sekarang sudah mulai turun," kata Manager Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu.
Kenaikan harga tersebut terjadi dalam beberapa pekan terakhir akibat terbatasnya pasokan dari daerah sentra produksi yang terdampak cuaca ekstrem.
Kondisi ini sempat membebani pedagang dan konsumen, terutama saat permintaan mulai meningkat. Apalagi cabe merupakan komoditas yang paling cepat bereaksi terhadap perubahan pasokan.
Pada masa puncak kenaikan, harga cabe rawit merah sempat menembus kisaran Rp70 ribu per kilogram (kg). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
Waktu itu sempat di sekitar Rp70 ribuan perkilogram. "Ini karena pasokan yang masuk ke pasar induk memang berkurang," katanya.
Lonjakan harga tersebut turut dirasakan oleh pedagang eceran dan pelaku usaha kuliner yang bergantung pada pasokan cabe setiap hari.
Selain itu, Agus menjelaskan, salah satu faktor utama yang menyebabkan pasokan cabai menurun adalah kondisi cuaca yang tidak menentu di daerah penghasil.
"Di beberapa wilayah sedang mengalami cuaca ekstrem. Petani jadi kesulitan melakukan pemetikan karena khawatir hasil panen rusak," katanya.
Akibat tertundanya proses panen, jumlah cabe yang dikirim ke Jakarta berkurang, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan barang di pasar.
Selain itu, memasuki H-1 Ramadhan, kondisi pasokan mulai membaik. Sejumlah daerah sentra produksi telah memasuki masa panen dan kembali melakukan pemetikan.
"Sekarang ini sudah mulai banyak daerah yang panen. Barang mulai masuk lagi sehingga harga turun sekitar Rp2.000 sampai Rp3.000," katanya.
Saat ini, harga cabe rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati berada di kisaran Rp68 ribu per kilogram.
Pengawasan Diperketat
Untuk mencegah lonjakan harga yang tidak wajar, pengelola pasar bersama instansi terkait terus melakukan pengawasan. Sejumlah inspeksi dilakukan guna memastikan tidak terjadi penimbunan.
"Sudah ada pengecekan dari Badan Pangan Nasional dan juga dari Bareskrim Polri. Mereka memastikan kenaikan harga ini karena faktor pasokan, bukan permainan," ujar Agus.
Menurut dia, pengawasan ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi masyarakat dari praktik spekulasi.
Dengan mulai membaiknya pasokan, pengelola pasar berharap harga cabai dapat terus menurun dan stabil selama Ramadhan hingga Lebaran. "Kami berharap cuaca membaik dan petani bisa panen secara normal. Kalau suplai lancar, harga juga akan lebih terkendali," katanya.
Agus juga mengimbau masyarakat agar berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
Menjelang hari pertama Ramadhan (H-1), aktivitas di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim) terlihat semakin padat sejak dini hari hingga menjelang sore.
Arus kendaraan pengangkut bahan pangan serta pembeli dari berbagai daerah terus memadati kawasan pasar yang menjadi pusat distribusi sayur dan buah terbesar di Jakarta dan sekitarnya.
Peningkatan aktivitas menjelang Ramadhan merupakan hal yang rutin terjadi setiap tahun.
Sejumlah komoditas yang menjadi incaran utama para pedagang maupun masyarakat, antara lain sayur-mayur, cabe, dan bawang. Selain itu, buah-buahan juga menjadi salah satu produk yang paling diminati.
Meski beroperasi selama 24 jam, Agus mengungkapkan bahwa ada waktu-waktu tertentu yang menjadi puncak keramaian di Pasar Induk Kramat Jati. Salah satunya terjadi pada dini hari saat pasokan dari daerah mulai berdatangan.
Selain dini hari, aktivitas juga kembali meningkat pada pagi hingga sore hari. Pada rentang waktu tersebut, sebagian besar pasokan sayur-mayur tiba dan langsung didistribusikan kepada pedagang.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026